Rabu, Mei 06, 2009

Dhika's Kingdom Of Heaven


Judul: KINGDOM OF HEAVEN
Sutradara: Ridley Scott
Skenario: William Monahan
Pemain: Orlando Bloom, Leam Neeson, Edward Norton, Jeremy Irons
Produksi: 20th Century Fox dan Scott Free Production



Yerusalem di abad ke-12 itu melesat, melaju, dan menjelma menjadi Yerusalem abad ke-21. Ridley Scott menyebarkan sebuah aroma konflik agama di masa lalu yang kini, di abad ke-21, menjadi persoalan besar sejak pecahnya tragedi WTC 11 September 2001. Kisah Perang Salib ketiga.

Nun di penghujung tahun 1187, Yerusalem lahir sebagai sebuah tanah yang terus-menerus mencoba menjadi santun dan damai. Tetapi tubuh Yerusalem terus-menerus dicabik-cabik oleh kebencian dan permusuhan. Maka, Perang Salib ketiga, ketika Timur Tengah memiliki tokoh-tokoh sejarah yang berupaya keras untuk tetap hidup damai antar-sesama umat Nasrani, Islam, dan Yahudi, menjadi sebuah setting penting bagi sutradara Ridley Scott dan penulis skenario William Monahan untuk mengirim penonton ke sebuah persoalan masa kini: bisakah perbedaan keimanan dan kepercayaan hidup bersama berdampingan dengan damai?

Syahdan Raja Baldwin IV (Edward Norton), penguasa Yerusalem, adalah tokoh sejarah yang berjuang agar umat Nasrani dan muslim bisa berdampingan dengan damai. Tetapi, meski dengan segala kewenangan dan otoritas yang penuh, sang Raja berhati mulia itu memiliki kelemahan: ia menderita lepra dan tengah melawan maut. Ia memerintah dengan topeng berwarna perak yang menyelimuti wajahnya yang telah digerogoti lepra--yang di masa itu masih menjadi penyakit mematikan. Karena itu, musuh utamanya bukanlah tentara muslim, melainkan justru para petinggi seperti Guy Lusignan (Marton Czokas), adik ipar sang raja--yang menikah dengan adik raja yang jelita, Sybilla (Eva Green)--dan Reynald (Brendan Gleeson), yang tak percaya bahwa umat di luar Nasrani patut memiliki Yerusalem.

Lalu di ujung sana, seorang sultan, seorang sosok bercahaya yang namanya senantiasa bersinar bernama Saladin (1138-1193), adalah seorang pemimpin umat Islam yang bertahan untuk tidak berperang demi kekuasaan. Sultan Saladin dan Raja Baldwin adalah dua sosok sejarah yang sesungguhnya sama-sama menginginkan Yerusalem--atau bagian di mana pun di dunia--bersih dari pertumpahan darah.

Tetapi dunia dan manusia tidak sebersih itu. Lusignan, adik ipar sang raja, bergerak bak seekor burung gagak yang menanti sang raja mengembuskan napasnya yang terakhir. Reynald adalah seorang Dursasana yang terus-menerus mengembuskan kebencian dan kegairahan perang.

Lalu, muncul seorang kesatria bernama Balian (Orlando Bloom). Seorang tukang besi Prancis dengan wajah indah dan berhati emas yang baru saja menemukan ayahnya, Godfrey (Liam Neeson), kesatria yang kemudian mengajak putranya bergabung dalam Perang Salib untuk mempertahankan Yerusalem di tangan Raja Baldwin.

Selanjutnya, Scott tak bisa hanya setia pada sejarah. Meski tokoh Balian memang pernah dikenal dalam sejarah, Scott harus memasukkan unsur romansa agar penonton tidak lelah dan mendengkur. Sybilla, adik jelita sang raja yang bersuami lelaki sialan itu, kemudian jatuh cinta pada Balian. Mereka terlibat dalam percintaan gelap. Meski demikian, Balian tak memanfaatkan hubungan gelap itu. Dia menampik kesempatan untuk membunuh suami Sybilla. Ketika raja tewas, mau tak mau mahkota jatuh ke tangan Lusignan, dan Perang Salib antara kaum Muslim di bawah pimpinan Sultan Saladin melawan kaum Nasrani akhirnya pecah.

Scott adalah satu dari sedikit sutradara yang selalu melahirkan puncak-puncak baru dalam perfilman. Film Blade Runners, Gladiator, dan Black Hawk Down adalah karyanya yang bukan saja spektakuler, tetapi juga menjadi tonggak dalam perfilman Hollywood. Film Kingdom of Heaven, yang menggambarkan Yerusalem sebagai sebuah kerajaan yang penuh paradoks, sebuah kawasan suci bagi tiga agama yang tak henti-hentinya diperebutkan dan terus-menerus basah oleh darah pertempuran, adalah karya yang super-spektakuler.

Adegan perang, pertahanan benteng di Yerusalem, dan ratusan ribu tentara yang saling menghantam, menghajar, dan saling berlomba untuk mengirim musuhnya ke neraka adalah keistimewaan Scott yang telah dibuktikan melalui film kolosal The Gladiator. Kini Kingdom of Heaven menunjukkan sebuah tontonan spektakuler, sebuah drama berdarah tak tertandingkan dan hanya bisa dikisahkan melalui kamera.

Tetapi Scott bukanlah sutradara yang dahsyat dalam mengurus aktor, meski Russell Crowe pernah lahir sebagai aktor terbaik di bawah arahannya (dan itu lebih karena bakat luar biasa Crowe). Orlando Bloom mungkin tampak seperti seorang Arjuna sebagai Legolas dalam Lord of the Rings, dia manis dan gemulai lengkap dengan anak panahnya yang membuat penonton remaja putri histeris karena setiap geraknya. Tetapi Bloom sebagai Balian tidak tampil sebagai sosok yang meyakinkan, yang bisa membuat seorang permaisuri jatuh ke telapak kakinya, yang mempunyai keyakinan keras bahwa membunuh musuhnya dengan cara yang curang bukanlah perbuatan seorang kesatria. Dia tampil sebagai lelaki cantik, tetapi bukan pria yang penuh prinsip.

Eva Green sebagai Sybilla adalah sebuah marabahaya. Dia aktris yang bersinar dalam film Dreamer (sebuah drama erotis tentang percintaan inses), tetapi dia tak mampu mengembuskan napas erotisisme dan keagungan seorang permaisuri yang luluh-lantak oleh cintanya pada seorang tukang besi. Karakter para petinggi di kalangan Nasrani terlalu hitam-putih. Memang ada semacam "kewajiban moral" bagi Scott untuk memperlihatkan bahwa Perang Salib ketiga ini lebih banyak terjadi karena pihak Nasrani yang memprovokasi.

Selain itu ada kesan pula, setelah tragedi 11 September, ketika masyarakat AS kemudian mempunyai "musuh baru" yakni warga Timur Tengah (yang kemudian dicampuradukkan dengan umat Islam), Scott tampak merasa wajib menampilkan sebuah proses edukasi bagi penonton Barat. Karena itu, dia sama sekali tak memperlihatkan kompleksitas pada pasukan Sultan Saladin. Mereka semua digambarkan penuh nurani dan heroik, dan tak ada satu pun anak buah Saladin yang mempertanyakan kebijakan Saladin yang sangat memaafkan musuhnya.

Harus diingat, konflik agama dan keimanan sudah pasti memiliki banyak kendala. Scott memilih untuk berisiko: umat Nasrani memilih perang karena kepercayaan, moral, dan sebagian karena rakus. Umat Islam dalam film ini digambarkan sebagai kesatria yang maju perang untuk mempertahankan diri dan karena moral. Scott memindahkan kisah abad ke-12 dengan aroma abad ke-21 dengan sebuah tujuan penting: para tokoh sejarah di masa lalu seperti Sultan Saladin dan Raja Baldwin bahkan jauh lebih bijaksana dan bermoral daripada pemimpin di masa kini. Mereka mampu menjadi pemimpin yang rasional dan membuang fanatisisme.

Pertumbuhan kaum fanatik dari semua agama (Islam, Kristen, Yahudi) di abad ini menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan karena fanatisisme tidak memberi ruang pada toleransi dan kehidupan damai. Scott mengirim misi itu dengan jelas melalui Kingdom of Heaven, sebuah "kerajaan" yang hingga kini masih terus penuh darah, dan tak kunjung menjadi "surga" di atas bumi karena pergolakannya.



***************


Yang 'Kudus' yang Berdarah


Film Kingdom of Heaven menampilkan sisi lain dari Perang Salib. Itulah perang yang diawali para pemeluk baru yang fanatik.

Dengan mimik muak, Tiberias, pangeran dari Tripoli itu, menghentak kudanya menjauhi Yerusalem. "Mulanya kupikir kita perang demi Tuhan, ternyata demi tanah dan kekayaan. Aku malu." Ia undur, meninggalkan sendiri Balian, pangeran Ibelin yang memandang hamparan mayat pasukan Salib diserbu ribuan gagak.

Kalimat ini terasa menohok bagi kita yang menonton adegan film Kingdom of Heaven. Sebuah kalimat yang, konon, oleh sutradara Ridley Scott ditujukan untuk Presiden Bush. Intinya: betapa pembelaan berlebihan pada yang suci bisa berakibat suatu paranoia yang fatal.

Inilah sebuah film dengan setting berabad-abad lampau, tapi masih aktual dipakai sebagai cermin masa sekarang. Film ini mengambil kisah nun jauh di tahun 1099. Serombongan kafilah muslim Sarasin dibantai oleh seorang baron bernama Reynauld de Chatillon, dan Saladin membalas. Yerusalem jatuh ke tangan Saladin, peristiwa yang akhirnya menggulirkan Perang Salib ke-3.

Banyak teolog atau sejarawan yang menegaskan bahwa asal-usul Perang Salib tidak bersumber pada nilai-nilai agama Kristen atau Islam, dan film ini menyuguhkan sisi-sisi itu. Sisi yang sering dilupakan bahwa dari kedua belah pihak muncul banyak tokoh yang berusaha keras membina toleransi, menjaga gencatan senjata. Tapi akibat langkah baron-baron yang bermotif campuran antara ekonomi dan religi, sejarah pun mencatat enam kali tragedi besar itu berulang.

Awal Perang Salib, kita tahu, adalah ketika kaum Turki Seljuk merangsek ke wilayah-wilayah Bizantium, dan mulai menjamah Anatolia. Ketika itu Bizantium (pusat kekristenan timur) yang sesungguhnya telah berpisah resmi dengan Roma (pusat kekristenan barat) pada 1054, meminta tolong pada Roma. Lalu, Paus Urbanus II di Konsili Clermont, November 1095, menyerukan sukarelawan seantero Eropa Barat agar bergabung.

Sejarah mencatat kesatria-kesatria Eropa kala itu: Inggris, Prancis--terutama ujung tombaknya, kaum Frank Normandia--mengalir ke Bizantium. Tanda-tanda salib ditempelkan pada bahu. Mereka bersatu padu menghalau Turki Seljuk dan kemudian mengarahkan diri merebut Yerusalem, membebaskan makam suci Kristus.

Menurut buku Dr Th. van den End dan Dr Christiaan de Jonge dari Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, ada persamaan antara tentara Normandia dan Turki Seljuk. Turki Seljuk baru saja masuk Islam, kaum Frank baru masuk Katolik. Keduanya fanatik dan masing-masing tengah mencari jati diri. Turki menentang kemapanan Arab, sementara kaum Frank mencari jiwa Kristen baru yang berbeda dengan Bizantium.

Bila antara orang-orang Bizantium dan Arab telah belajar saling menghargai, siap hidup berdampingan antara Kristen dan Islam, tidak demikian halnya dengan kaum Turki dan Normandia waktu itu. Peradaban mereka masih rendah. Sementara itu, Bizantium dan Arab adalah ahli waris kebudayaan Helenis. Keduanya warga kosmopolitan yang telah lama saling tukar pengetahuan sehingga orang-orang Konstantinopel saat itu mungkin lebih betah tinggal di Kairo atau Bagdad daripada di Paris atau London.

Karen Armstrong, misalnya, menulis, ketika pasukan Salib berduyun-duyun datang dari seantero Eropa Barat ke Konstantinopel. Raja dan warga Konstantinopel kaget melihat betapa penyelamat mereka itu sangat barbar, buas, dan tak beradat. Warga Konstantinopel ketakutan sendiri. Sebaliknya, pasukan Salib semakin defensif begitu menyaksikan kemegahan dan keanggunan Konstantinopel.

Bizantium sendiri tidak pernah memaknai perang melawan Turki Seljuk sebagai sebuah "perang suci" atau perang agama. Namun, di tangan pasukan Salib, itu menjadi sebuah perang religius. Dengan rasa percaya diri tinggi, sering sepanjang perjalanan pasukan Salib merasa dilindungi secara gaib oleh Santo George, Santo Demetrius, dan mendapat halusinasi dibimbing untuk menemukan azimat-azimat, relik-relik--termasuk lembing suci--yang dipakai untuk menombak Kristus yang dianggap membawa kesaktian. Pada 15 Juli 1099, Yerusalem takluk, seisi kota dibantai habis, dan Godfrey de Bouillon diangkat menjadi Raja Yerusalem.

Armstrong menerangkan, lambat-laun penghuni Yerusalem terbagi dua. Pertama, mereka yang mengawini masyarakat Timur Tengah setempat dan menjadi lebih toleran terhadap kaum muslim. Tiberias, misalnya, yang nama lainnya adalah Raymond, sehari-hari mampu berbicara Arab secara fasih, dan sosoknya lebih Timur daripada Barat, kulitnya gelap. Kingdom of Heaven tak menampilkannya demikian. Demikian pula Putri Sybilla, saudari Raja Yerusalem, Baldwin IV, yang parasnya ditampilkan mirip wajah perempuan-perempuan Timur Tengah.

Kelompok kedua adalah masyarakat yang tak mau melakukan asimilasi dengan penduduk setempat. Terutama dari golongan ini adalah kelompok-kelompok kesatria yang menjadi armada kepolisian penjaga kuil-kuil istana yang disebut Kesatria Kuil atau The Templars. Juga, kaum imigran dari Eropa Barat yang terus-menerus beremigrasi ke Yerusalem, dan kemudian heran melihat banyak keturunan kaum Frank di sana malah bersahabat dengan kaum muslim, sehingga menyebut mereka pengkhianat.

Konflik antara mereka yang toleran yang lalu disebut kaum Merpati dan yang anti yang lalu berjulukan kaum Elang inilah inti skenario Kingdom of Heaven, terutama ketika Reynauld de Chatillon, pemimpin kelompok Elang yang baru beremigrasi ke Yerusalem pada 1147 dan Guy de Lusignan membantai kafilah yang melakukan perjalanan ke Mekkah, termasuk adik Saladin. Mereka juga mendesuskan kabar rencananya menyerbu Mekkah. Dua ratus ribu pasukan Damaskus Saladin, pangeran asal Mesir itu, lalu menyerang, memanfaatkan menara-menara katapel yang pada saat itu canggih.

Musim panas Oktober 1187, Saladin menaklukkan Yerusalem. Ia masuk kota tanpa pembunuhan warga dan penjarahan. Ia bahkan mengundang kaum Yahudi di pengasingan untuk kembali ke Yerusalem. Dan seperti Abu Bakar yang menaklukkan Yerusalem pada 637, atau di dunia Islam Arab lain kala itu, ia mengizinkan warga Yahudi untuk melakukan pekerjaan apa saja, mulai dokter sampai pegawai. Bukan hanya menjadi rentenir, seperti bila mereka hidup di Eropa Barat (seperti diperlihatkan dalam Merchant of Venice karya Shakespeare, yang difilmkan pada 2004 oleh sutradara Michael Radford dengan aktor Al Pacino).

Balian, yang menjadi tokoh sentral dalam Kingdom of Heaven, mungkin perannya dalam film didramatisasi. Sejak berkapal dari Italia menuju Yerusalem, badai menerjang terus, dan hanya dia dan kudanya yang selamat, itu tak masuk akal. Dalam riwayat aslinya, konon, Sybillia juga tak pernah jatuh cinta padanya, tapi film menampilkan keduanya bercinta di ranjang. Akan halnya Raja Baldwin yang menderita lepra itu, Hollywood membuatnya mengenakan topeng keperakan yang terkesan teatrikal seperti Iron Mask.

Tapi harus diakui, Kingdom of Heaven dilandasi riset yang teliti. Ketika Reynauld de Chatillon dan Guy tertangkap, Saladin memberi Guy sekantong air yang diberi es dari salju di Gunung Hermon. Itu ada dalam film. "Raja tidak membunuh raja," kata Saladin kepada Guy. Reynauld de Chatillon dipenggal, tapi Guy dibiarkan hidup. Yang agak dikarikaturkan adalah peran Uskup Agung Heraclius yang ditampilkan begitu ketakutan. Dalam riwayat, sang uskup memang dikatakan membayar pajak dan dibebaskan oleh Saladin.

Film ditutup dengan sekilas munculnya Richard Berhati Singa. Ini membuat film ini seperti bersambung. Penonton tahu bahwa setelah itu sesungguhnya terjadi pertempuran dahsyat Saladin melawan Richard. Perang Salib dalam catatan sejarawan berakhir sekitar 1291. Tapi sampai sekarang, "daki" sang perang berkeliaran ke sana kemari. Masih ada juga titik darah penghabisan untuk sebuah paranoia. Film ini seolah berpesan, ketika Balian berteriak di Yerusalem: "Tidak ada yang paling suci antara Tembok Ratapan, Bukit Golgota, Masjidil Aqsa!"

(Dari Majalah TEMPO Edisi. 12/XXXIV/16-22 Mei 2005)
























Dhika's Panic Room


Judul: Panic Room
Sutradara : David Fincher
Skenario : David Koepp
Pemain : Jodie Foster, Forest Whitaker, Dwight Yoakam, Jared Leto
Produksi : Columbia, 2002



Kawasan Manhattan, New York, memiliki sebuah pojok ganjil. Pojok itu, bernama Panic Room, yang merupakan sebuah ruangan lapis baja, berfungsi laiknya bunker modern yang punya belasan monitor pengawasan dan sambungan telepon tersendiri. Tempat ini tak mungkin ditembus dari luar, bahkan ketika kiamat terjadi, begitu sesumbar agen yang menjual rumah ini. Mungkin karena merasa tak aman, mungkin karena ia gundah, perempuan muda yang baru saja bercerai, Meg Altman (Jodie Foster), memutuskan untuk membeli apartemen mewah tiga lantai yang menyediakan Panic Room itu. Altman adalah wanita kaya raya yang baru bercerai dari suaminya seorang raja farmasi, akibat perselingkuhan suaminya yang bertubi-tubi.

Bersama sang anak gadis Sarah (Kristen Stewart) yang menderita diabetes, Altman melalui malam pertama mereka di apartemen baru itu dengan aman hingga tengah malam. Saat itu, tiga penyusup masuk ke dalam rumah. Junior (Jared Leto), Burnham (Forest Whitaker), dan Raoul (Dwight Yoakam) mengincar harta senilai jutaan dolar yang disimpan penghuni lama di Panic Room. Mereka mengira tempat itu masih kosong. Altman yang terbangun sontak saja tercekam ketakutan. Pilihan yang lantas paling masuk akal adalah bersembunyi di ruang perlindungan. Padahal, Altman fobia ter-hadap ruang sempit, dan Sarah harus disuntik insulin secara periodik. Di si sisi lain, para penjahat sangat bernafsu masuk. Dari titik ini, ketegangan mulai menjalar.

Panic Room karya terbaru sutradara spesialis thriller David Fincher sejak awal mengajak penonton menikmati akrobat visual. Interior rumah tersaji detail dalam adegan pembuka yang menampilkan si agen menunjukkan dagangannya kepada Meg Altman. Berkat editing yang ciamik, kamera ibarat meluncur tanpa hambatan. Dari kamar lantai atas, menyapu ke dua lantai di bawahnya, menerobos lubang kunci, mundur, dan balik ke atas lagi. Interior rumah yang muram terlihat mengikuti suasana hati tokoh utamanya. Kamera juga hiperaktif berselancar dalam adegan-adegan berikutnya.

Fincher terlihat gandrung dengan pola yang sudah dipakainya dalam The Fight Club ini. Sayangnya, kefasihan Fincher dalam sisi visual ini tak terimbangi oleh skenario yang kuat. Panic Room menggelinding pucat linier. Tak ada kelokan plot atau penutup yang membuat kerongkongan penonton terasa kering karena ngeri, seperti yang ditimbulkan dalam dua karya Fincher sebelumnya, Se7en dan The Fight Club. Bahkan The Game yang tergolong karya Fincher yang kurang berhasil pun sanggup mempertahankan rasa penasaran penonton.

Dalam Panic Room, tokoh utamanya tak menjumpai penyingkapan rahasia yang membuatnya harus menempuh pilihan ekstrem. Altman melakukan perlawanan fisik, namun sosok lawannya jelas, bukan keiblisan dalam dirinya sendiri. Akibatnya, ketegangan datar-datar saja. Aksi tiga penjahat yang bertengkar sendiri malah sering mirip ulah badut Three Stooges. Whitaker memang bermain baik, tapi akting Leto dan Yoakam lebih mengundang rasa "geli".

Sebetulnya, peran Meg Altman akan dilakoni Nicole Kidman. Tapi sang aktris cedera saat pembuatan film Moulin Rouge. Panic Room beruntung mendapatkan aktris sekaliber Jodie Foster sebagai pemain pengganti. Penampilan aktris peraih dua Oscar ini, setelah empat tahun absen, menjadi jangkar yang membuat penonton lumayan betah. Kerapuhan wanita yang baru bercerai, pula kasih sayang seorang ibu pada anaknya, muncul wajar dalam akting Foster. Selain Whitaker, yang bisa mengimbangi permainan Foster malah bintang cilik Stewart.

Akhir film ingin menunjukkan ikatan keluargasekalipun perceraian sudah terjaditak bisa begitu saja diputuskan. Namun, bila ending semacam ini datang dari Fincher, hal ini sungguh terasa terlalu encer.

Dhika's James Bond : Die Another Day


Di perbatasan antara Korea Utara dan Selatan, James Bond ditugaskan untuk menangkap seorang teroris terkenal bernama Zhao yang diduga bekerja sama dengan petinggi militer wilayah Utara Kolonel Moon. Siapa sangka, tugas tersebut malah menjadi petaka bagi agen bernomor sandi 007 ini.

Lewat aksi penyelamatan diri spektakuler dan setelah berhasil membuat wajah Zhao cacat akibat terkena pecahan berlian, Bond tertangkap oleh pihak militer Utara dan disiksa habis-habisan selama beberapa bulan sebelum pihak MI6 sepakat untuk menukarnya dengan Zhao yang telah tertangkap.

Saat kembali ternyata Bond dibebastugaskan karena diduga dirinyalah yang membocorkan info tentang beberapa agen rahasia yang semuanya terbunuh. Demi membersihkan namanya, ia berhasil lolos dari kawalan dan terbang menuju Kuba, dimana penyelidikan menghubungkannya dengan seorang milyuner terkenal Gustav Graves yang telah membuat dunia terpesona dengan penemuannya.

Dijamu di sebuah istana es yang terletak di wilayah Islandia, penyelidikan Bond malah membuatnya sadar bahwa Graves berniat jahat : menggunakan satelitnya untuk mengancam para pemimpin dunia membayarnya dengan harga tinggi kalau tidak ingin kota-kota mereka dihancurkan dalam sekejab mata.

Dalam perjuangannya, Bond dibantu oleh seorang agen rahasia dengan kode sandi Jinx, yang belakangan malah tertangkap dan dikurung di istana es. Tidak hanya itu, pria parlente ini juga sempat berkenalan (dan berkencan singkat) dengan Miranda Frost, seorang agen rahasia Inggris yang ternyata adalah pengkhianat sebenarnya.

Film action penuh adegan spektakuler, yang salah satunya menampilkan mobil yang bisa menghilang, ini dibintangi oleh Pierce Brosnan (yang sekaligus menjadi film 007 terakhirnya) dengan sejumlah bintang pendukung seperti Hale Berry, Toby Stephens, Rosamund Pike, dan Judi Dench.

James Bond Pierce Brosnan
Pemain Halle Berry
Toby Stephens
Rick Yune
Rosamund Pike
Judi Dench
Will Yun Lee
Michael Madsen
Sutradara Lee Tamahori
Produser Michael G. Wilson
Barbara Broccoli
Novel/Cerita Neal Purvis
Robert Wade
Skenario Neal Purvis
Robert Wade
Film
David Tattersall
Musik
David Arnold
Musik Pembuka
Die Another Day
Komposer
Madonna
Mirwais Ahmadzaï
Penampilan Madonna
Editing
Christian Wagner
Distributor
USA Theatrical and Worldwide DVD/Video
Metro-Goldwyn-Mayer
Non-USA Theatrical
Sony Pictures
Tanggal Release November 22, 2002
Durasi
133 min.
Anggaran
$142,000,000
Pendapatan Kotor
$431,971,116

The World Is Not Enough


Dhika's James Bond : The World Is Not Enough


Pada intinya, film yang hasil karya sutradara Michael Apted pada tahun 1999 ini sebenarnya berkisah tentang pembalasan dendam yang berhubungan dengan masalah pribadi bos James Bond, kepala MI6 yaitu M (Judi Dench). Kisah film ini dimulai ketika sebuah bom meledak di markas MI6. Bom tersebut membunuh raja minyak Sir Robert King (David Calder) yang sedang berada di markas tersebut untuk mengambil kembali uang tebusan putrinya yang belum sempat dibayarkan kepada penculik.

Rupanya sebelum uang tebusan dibayar, Elektra King (Sophie Marceau), putri Sir Robert, berhasil melarikan diri dari tangan penculiknya, yaitu teroris yang sangat ditakuti, Renard (Robert Carlyle) yang juga dikenal dengan nama The Anarchist.
Tewasnya Sir Robert yang merupakan sahabat karib M membuat sang bos MI6 marah dan sedih. Namun M juga merasa khawatir bahwa pembunuh Sir Robert pun mengincar Elektra sehingga iapun menugaskan Bond untuk melindungi putri Sir Robert itu.

Bond langsung terbang ke Baku, Azerbaijan tempat proyek ambisius Sir Robert yaitu pembangunan pipa minyak yang melintasi dari Asia Barat ke Istanbul, Turki agar dunia Barat bisa menikmati surplus minyak untuk seratus tahun lagi. Di sanalah, Elektra langsung mengawasi proyek tersebut setelah kematian Sir Robert. Ketika Bond memperingatkan bahwa pembunuh Sir Robert akan mengincar Elektra, gadis tersebut malah menganggap sepi dan tidak takut ancaman tersebut.

Sementara itu, Bond berhasil memastikan bahwa pembunuh Sir Robert adalah Renard yang dulu menculik Elektra. Tidak hanya itu, Renard pun tampak berniat membunuh Elektra Setelah menyadari dirinya benar-benar dalam bahaya, Elektra segera menerima tawaran perlindungan Agen 007. Namun Bond malah diam-diam menaruh rasa curiga kepada Elektra yang diduganya mengidap "Stockholm Syndrome", yaitu simpati atau cinta korban terhadap penculiknya.

Bond pun menduga kaburnya Elektra dari Renard dalam penculikannya dan juga usaha pembunuhan itu hanyalah merupakan tipuan belaka, sedangkan Elektra sebenarnya masih berhubungan dengan Renard. Namun karena belum ada bukti, Bond berusaha menyelidiki lebih jauh. Setelah menyadari bahwa Elektra sebenarnya tidak dalam bahaya, maka Bond berusaha menemukan motif Renard sebenarnya. Apalagi Renard ditenggarai hendak mencuri sebuah senjata nuklir dari bekas instalasi militer Rusia yang sedang dibongkar.

Bond segera menuju ke tempat instalasi itu untuk mencegah pencurian senjata nuklir itu, namun gagal. Dengan bantuan ilmuwan nuklir yang mempimpin pembongkaran instalasi, Dr. Christmas Jones (Denise Richards), Bond berusaha menghentikan Renard yang hendak menggunakan senjata itu yang belum diketahui apa tujuannya. Sementara itu, M yang tidak menyangka jelek terhadap Elektra, pun jatuh ke perangkap buatan gadis tersebut yang ternyata menaruh dendam kepada bos MI6 itu.

Sutradara Michael Apted
Produser Barbara Broccoli,
Michael G. Wilson
Penulis Neal Purvis
Robert Wade
Pemeran Pierce Brosnan,
Sophie Marceau,
Denise Richards,
Serena Scott Thomas,
Maria Grazia Cucinotta
Distributor Metro-Goldwyn-Mayer
Tanggal Release 19 November 1999
Durasi 128 menit
Bahasa Inggris
Anggaran $135.000.000

Dhika's James Bond : Tomorrow Never Dies


Peristiwa hilangnya kapal perang tersebut mengakibatkan hubungan Inggris dengan Cina menjadi tegang dan ketegangan internasional pun meningkat tajam. Dinas rahasia Inggris MI6 mencurigai adanya keterlibatan pihak ketiga dalam peristiwa. Pihak ketiga itu adalah seorang pemilik kerajaan pers yang bernama Elliot Carver. Oleh karena itu, M, kepala MI6 segera memerintahkan Agen 007 James Bond (Pierce Brosnan) yang baru saja kembali dari misi sebelumnya, untuk menyelidiki sang raja pers tersebut. James Bond lalu memanfaatkan hubungannya di masa lalu dengan istri Carver yang bernama Paris Carver, unntuk menginfiltrasi organisasi Carver.

Kecurigaan pihak Inggris ternyata benar bahwa Carver yang mendalangi peristiwa hilangnya kapal perang Inggris itu. Motifnya karena ketamakan raja pers tersebut yang ingin menaikkan peringkat dan mendapatkan pasar baru untuk jaringan televisi satelit global miliknya serta juga kesal kepada Cina karena menolak memberikan hak penyiaran di wilayah negara tersebut kepadanya. Oleh karena itu, ia merencanakan terjadinya perang antara Inggris dan Cina, yang pada gilirannya akan menyeret banyak negara sehingga Perang Dunia III dapat terjadi. Usaha penyusupan Bond ke dalam organisasi Carver akhirnya ketahuan sehingga ia terpaksa kabur menyelamatkan diri.

Dalam usaha kaburnya, ia bertemu dengan seorang agen rahasia cantik dari Cina yang bernama Kolonel Wai Lin (Michelle Yeoh). Rupanya pemerintah Cina juga ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi sehingga mengirim Wai Lin untuk menyelidiki organisasi Carver seperti halnya James Bond. Dengan bantuan Wai Lin, James Bond segera melakukan berbagai usaha untuk mencegah rencana Carver untuk meluncurkan peluru kendali nuklir yang dirampas dari kapal perang Inggris ke arah wilayah Cina sehingga perang dapat dihindarkan.

Pierce Brosnan
Aktor yang menanjak namanya melalui serial televisi populer "Remington Steele" (1982-1987) ini dilahirkan di Navan, Heath, Irlandia pada tanggal 16 Mei 1953. Orang tuanya bercerai ketika ia masih bayi dan ibunya belum dapat mengasuhnya sehingga ia diasuh oleh kakek dan neneknya. Pada usia 10 tahun, ia bersama ibunya, May, tinggal di Putney London. Kemudian Pierce dimintai persetujuan oleh ibunya untuk menikahi seorang pria yang bernama Bill Carmichael. Pierce setuju dan Bill Carmichel pun menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Bill-lah yang membawa Pierce untuk menonton film James Bond yang pertama baginya, "Goldfinger".

Film inilah membuatnya memutuskan untuk menjadi aktor di kelak hari. Ternyata iapun mendapatkan peran sebagai Agen 007 James Bond dalam film "Golden Eye" (1995), "Tomorrow Never Dies" (1997), dan "The World Is Not Enough (1999). Sebenarnya beberapa tahun sebelumnya Pierce Brosnan telah mendapat tawaran untuk menjadi James Bond, namun lantaran masih terikat dengan kontrak serial televisi Remington Steele sehingga ia terpaksa menolaknya walau sangat menginginkannya. Selain film James Bond, ia juga membintangi banyak film diantaranya adalah "The Lanmower Man" (1992), "Live Wire" (1992), "Death Train" (1993), Mrs. Doubtfire (1993), "Night Watch" (1995), "Mars Attack!" (1996), "Dantes Peak (1997) dan "Grey Owl" (1999), "Tailor of Panama" (2001) dan "Blood and Champagne" (2001).

Selain membintangi film layar lebar, ia juga memproduksi film sendiri melalui perusahaan film Irish DreamTime yang dimilikinya bersama Beau St. Clair. Produk pertama perusahaannya adalah film layar lebar berjudul "The Nephew" yang diedarkan pada tahun 1998. Selain itu, perusahaan tersebut juga memproduksi film populer "Thomas Crown Affair" yang dibintang Pierce sendiri dan aktris Rene Russo. Kini aktor yang masih ganteng dalam usia 48 tahun tinggal bersama istri keduanya Keely Shaye-Smith yang dinikahi tahun 2001 dan keempat anaknya, yakni Charlotte, Christopher (anak tiri dari mendiang istri pertamanya, Cassie), Sean William (dengan Cassie) dan Dylan Thomas (dengan Keely) di Malibu, Amerika Serikat.

James Bond Pierce Brosnan
Pemain Michelle Yeoh
Jonathan Pryce
Teri Hatcher
Sutradara Roger Spottiswoode
Produser Michael G. Wilson
Barbara Broccoli
Novel/Cerita
Bruce Feirstein
Skenario Bruce Feirstein
Film Robert Elswit
Musik
David Arnold
Musik Pembuka
Tomorrow Never Dies
Komposer Sheryl Crow
Mitchell Froom
Penampilan Sheryl Crow
Distributor MGM Distribution Co.
Tanggal Release 19 December 1997
Durasi 119 min.
Anggaran $110,000,000
Pendapatan Kotor
$333,000,000
Diawali
GoldenEye
Diikuti
The World Is Not Enough

Dhika's Transformers


Film ini dimulai dengan penjelasan oleh Optimus Prime mengenai asal-muasal peperangan di planet Cybertron antara kaum Autobots dan kaum Decepticons. Perang ini membuat sebuah Kubus Energon, atau yang biasa dinamakan sebagai Allspark terlempar ke angkasa luar dan jatuh di bumi. Namun sepertinya semua sudah terlambat, sebab para Decepticons

telah berada di bumi, mencari kesempatan untuk bisa menemukan Kubus tersebut.

Kesempatan itu pun akhirnya tiba. Blackout mendatangi sebuah markas Angkatan Udara Amerika Serikat yang berada di Qatar. Ia kemudian menghancurkan markas tersebut, membunuh seluruh tentara yang berada di dalamnya. Tujuan utamanya adalah menyusup ke dalam jaringan data militer AS untuk mencari informasi keberadaan Kubus tersebut. Namun, segala usahanya mampu digagalkan. Tidak puas akan kegagalannya, ia kemudian melepaskan Scorponok dari punggungnya. Robot kalajengking tersebut terus bergerak mencari tentara yang mampu melarikan diri dari pembantaian di markas.

Setelah kegagalan tersebut, Frenzy menyusup ke dalam pesawat kepresidenan AS, Air Force One. Kali ini, ia berhasil mencari informasi yang dicari oleh Decepticons: keberadaan Megatron, keterlibatan Sector Seven, serta kacamata leluhurnya yang dilelang oleh Sam Witwicky. Dalam kacamata tersebut tersimpan koordinat di mana Kubus itu berada.

Sementara itu jauh di daratan AS, kehidupan Sam mulai memasuki babak baru setelah ia lulus ujian presentasi. Sebagai hadiah, ayahnya membelikannya sebuah mobil baru yang ternyata bisa berubah menjadi sebuah robot bernama Bumblebee. Pada awalnya, ia sempat kaget akan apa yang dilihatnya ketika Bumblebee berdiri tegak di hadapannya, sehingga pada akhirnya ia terjebak oleh pengejaran Barricade. Barricade menyerangnya, menginterogasinya, dan menanyakan keberadaan kacamata leluhurnya. Pada saat genting, Bumblebee menyelamatkannya bersama dengan Mikaela Banes, teman wanita Sam yang terjebak dalam situasi itu.

Pengejaran pun terjadi antara Bumblebee dan Barricade, yang menandakan awal pertempuran antara Autobots dan Decepticons di bumi. Pada suatu pertarungan satu lawan satu, Barricade melepaskan Frenzy untuk memburu Sam. Walaupun Barricade mampu dikalahkan, Frenzy akhirnya tetap selamat dengan cara menyamar menjadi mobil phone milik Sam. Kini, Frenzy ikut bersama Sam, Mikaela, dan Bumblebee ke mana pun mereka pergi.

Di saat yang sama, Optimus Prime, Jazz, Ratchet, dan Ironhide tiba di bumi. Mereka bertemu dengan Sam dan Mikaela, setelah Bumblebee mempertemukan mereka semua di sebuah gang kecil di tengah kota. Para Autobots juga ternyata sedang mencari keberadaan Kubus tersebut, berusaha untuk menghancurkannya agar perang bisa berakhir. Untuk itu, Sam harus mencari kacamata leluhurnya yang masih disimpan di rumahnya.

Namun sayang, walaupun Sam berhasil menemukannya, agen-agen Sector Seven mendatangi rumahnya dan menangkap seluruh anggota keluarganya, termasuk dirinya dan Mikaela. Ketika para Autobots mencoba menyelamatkannya, Bumblebee mampu dilumpuhkan oleh pasukan elit Sector Seven. Baik Sam, Mikaela, maupun Bumblebee akhirnya dibawa ke Hoover Dam, di mana Kubus tersebut berada. Ternyata lokasi Kubus itu tidak terlalu jauh dari tempat di mana Megatron dibekukan selama ratusan tahun.

Setelah mengetahui keberadaan Kubus tersebut, Frenzy lalu mengontak para Decepticons bahwa Kubus itu telah ditemukan. Starscream, Barricade, Brawl, Bonecrusher, dan Blackout pun langsung bergerak. Starscream menyerang Hoover Dam, menyelamatkan Megatron dari kebekuannya selama ratusan tahun. Merasa ancaman besar sudah berada di depan mata, Sector Seven setuju untuk melepaskan Bumblebee, membiarkannya mengamankan Kubus itu dari tangan Decepticons.

Megatron akhirnya menyadari bahwa Kubus itu telah dibawa oleh Sam, Mikaela, dan Bumblebee ke Mission City. Bumblebee pun kembali bergabung dengan Optimus Prime, Jazz, Ratchet, dan Ironhide. Di tengah perjalanan ke Mission City, mereka dihadang oleh Bonecrusher dan Barricade. Keduanya kemudian dikalahkan oleh Optimus Prime setelah kepala mereka terpenggal dalam pertempuran di jalan tol.

Setibanya mereka di Mission City, para Decepticons yang tersisa mulai berkumpul akhirnya berhadap-hadapan dengan para Autobots yang dibantu oleh tentara AS. Brawl berhadap-hadapan dengan Jazz, Ratchet, Ironhide, serta tentara AS yang menyertai mereka. Blackout terkadang menyerang para Autobots sesekali, namun tidak mampu melumpuhkan Autobot apapun. Starscream lebih banyak membantu Megatron dalam usahanya meraih Kubus yang diamankan oleh Sam. Jazz tewas ketika tubuhnya dibelah dua oleh Megatron.

Optimus Prime pada akhirnya berhadap-hadapan satu lawan satu dengan Megatron, walaupun pertarungan seakan didominasi oleh kekuatan Megatron. Satu per satu, Brawl dan Blackout tewas dalam pertempuran. Hanya Sam lah yang akhirnya mampu membunuh Megatron dengan memasukkan Kubus tersebut ke dadanya.

Di akhir film, seluruh mayat para Decepticons diceburkan ke Palung Laurentian, palung terdalam di dunia. Diharapkan agar tubuh mereka hancur dihantam tekanan air yang luar biasa. Namun, tunggu dulu! Kisah belum selesai, karena Starscream mampu selamat dari pertempuran. Dia terbang melesat ke angkasa luar, memanggil rekan-rekannya untuk membalas dendam kepada para Autobots.

Karakter Utama

Manusia

Tokoh utama dari kaum manusia adalah sebagai berikut:

Sam Witwicky

  • Pemeran: Shia LaBeouf

Seorang pria muda yang terobsesi dengan mobil kendaraan pribadi dan wanita cantik untuk dijadikan pacar, seperti halnya pria muda lainnya di dunia. Namun setelah ia melelang kacamata leluhurnya di e-bay, yang ternyata menyimpan koordinate letak Allspark, serta membeli mobil pertamanya, yang ternyata adalah sebuah robot bernama Bumblebee, kehidupannya mulai berubah drastis. Keberadaannya dikejar-kejar oleh para Decepticons demi mendapatkan koordinat letak Allspark tersebut, namun beruntung karena ada Bumblebee di sampingnya yang selalu melindunginya.

Mikaela Banes

  • Pemeran: Megan Fox

Seorang wanita muda yang menjadi incaran Sam Witwicky untuk dijadikan pacar, walaupun dari sejak awal, dia juga sudah menunjukkan ketertarikannya dengan Sam dengan lirikan-lirikannya yang 'nakal'. Ayahnya adalah seorang pencuri mobil berpengalaman, sehingga dia pun dikejar-kejar oleh pihak berwenang, tak terkecuali Sector Seven yang juga berkepentingan dalam memburu para Transformers. Meskipun dia adalah seorang gadis, namun dia adalah figur yang mampu diandalkan oleh semua pihak dalam membantu dalam menghancurkan para Decepticons.

William Lennox

  • Pemeran: Josh Duhamel

Seorang kapten dari Angkatan Darat AS yang bertugas di Irak. Dalam perjalanan pulangnya kembali ke tanah Amerika, dia terjebak pada situasi di mana dia mau tidak mau, suka tidak suka harus memilih untuk ikut bertempur bersama rekan-rekannya melawan ancaman para Decepticons. Di misi terakhirnya di Mission City, dia membunuh Blackout hanya dengan modal senapan serbu dan motor sport, setelah robot tersebut dihajar oleh rudal-rudal yang diluncurkan oleh pesawat F-22.

Robert Epps

  • Pemeran: Tyrese Gibson

Seorang sersan dari Angkatan Udara AS yang juga bertugas di Irak, sekaligus sebagai operator komando udara. Seperti rekannya William Lennox, dia juga terjebak pada situasi di mana dia harus ikut bertempur melawan ancaman para Decepticons. Dia sangat berperan penting dalam memerintahkan Angkatan Udara AS membantu menghancurkan para Decepticons, baik di gurun Qatar maupun di Mission City, tentunya berkat peranannya yang vital di jajaran Angkatan Udara AS.

Maggie Madsen

  • Pemeran: Rachael Taylor

Seorang ahli dalam bidang komunikasi dan sinyal yang masih menjenjang pendidikan kuliah. Pada awalnya, dia ditugaskan oleh Departemen Pertahanan AS untuk menyelidiki siapa biang di balik serangan di Qatar, karena serangan tersebut diduga melibatkan sinyal-sinyal yang tidak dimengerti oleh umat manusia. Ketika seluruh masalah sudah mulai nampak ke permukaan, dia kemudian ditugaskan untuk menyertai Menhan AS John Keller di Hoover Dam untuk membantu menuntaskan masalah yang ditimbulkan oleh para Decepticons.

Glenn Whitmann

  • Pemeran: Anthony Anderson

Seorang hacker yang berkemampuan dalam bidang memprogram dan menyunting data-data sensitif. Keterlibatannya dalam proyek rahasia milik Maggie Madsen untuk memecahkan kode-kode rahasia yang tersimpan dalam rekaman serangan di Qatar akhirnya membuatnya masuk ke tahanan polisi, bersama dengan Maggie. Namun setelah Maggie mendapatkan tugas untuk menyertai Menhan AS John Keller, dia juga diterbangkan ke Hoover Dam, di mana dia berjasa mentransmisikan perintah kepada Angkatan Udara AS untuk membantu para Autobots di Mission City.

John Keller

  • Pemeran: Jon Voight

Seorang Menhan AS yang bertugas menyelidiki sebab dan asal-muasal serangan terhadap markas militer AS di Qatar. Sebagai seorang Menhan, dia adalah seorang pejabat yang buruk karena tidak mengetahui adanya Megatron yang disimpan di balik Hoover Dam. Namun, seburuk-buruknya dia sebagai seorang pejabat pemerintah, tetap saja kemenangan para Autobots tidak akan tercapai bila saja dia tidak memerintahkan pesawat F-22 untuk membantu mereka di Mission City.

Reggie Simmons

  • Pemeran: John Turturro

Seorang pemimpin organisasi rahasia Sector Seven yang keberadaannya tidak diketahui siapapun di muka bumi, kecuali dia dan orang-orangnya sendiri. Kadang kala dia melakukan hal-hal yang humoris dan konyol di saat melakukan tugasnya sebagai agen rahasia, membuatnya terkesan ceroboh dan bodoh. Dia juga tampaknya memiliki masalah pribadi dengan Sam Witwicky dan Mikaela Banes, terbukti dengan selalu gencarnya dia menangkis pertanyaan-pertanyaan dan permintaan kedua anak muda tersebut.

Ron Witwicky

  • Pemeran: Kevin Dunn

Ayah Sam Witwicky yang terkenal sangat perfeksionis, pelit, dan sangat mencintai kebunnya sendiri.

Judy Witwicky

  • Pemeran: Julie White

Ibu Sam Witwicky yang terkenal sangat protektif terhadap anaknya, serta gemar mengoceh setiap saat.

Kubu Autobots

Tokoh utama dari kubu Autobots adalah sebagai berikut:

Optimus Prime / Convoy (versi Jepang)

  • Pengisi Suara : Peter Cullen
  • Faksi : Autobots
  • Bentuk Alternatif: Truk semi-trailer, Peterbilt 379
  • Posisi : Pemimpin kaum Autobots

Jazz / Meister (versi Jepang)

  • Pengisi Suara : Darius McCrary
  • Faksi : Autobots
  • Bentuk Alternatif: Mobil sport, Pontiac Solstice
  • Posisi : Letnan pertama Optimus Prime

Ratchet

  • Pengisi Suara : Robert Foxworth
  • Faksi : Autobots
  • Bentuk Alternatif: Jip ambulance, Hummer H2
  • Posisi : Spesialis medik dan pemulihan

Ironhide / Rhino (versi Kanada), Falco (versi Italia), Vasököl (Ironfist) (versi Hungaria)

  • Pengisi Suara : Jess Harnel
  • Faksi : Autobots
  • Bentuk Alternatif: Truk pickup, GMC Topkick
  • Posisi : Spesialis strategi dan persenjataan

Bumblebee / Bumble (versi Jepang), Moscardo (versi Portugal), Űrdongó (versi Hungaria)

Kubu Decepticons

Tokoh utama dari kubu Decepticons adalah sebagai berikut:

Megatron

  • Pengisi Suara : Hugo Weaving
  • Faksi : Decepticons
  • Bentuk Alternatif: Jet tempur Cybertron
  • Posisi : Pemimpin kaum Decepticons

Starscream

  • Pengisi Suara : Charlie Adler
  • Faksi : Decepticons
  • Bentuk Alternatif: Jet tempur, F-22 Raptor
  • Posisi : Wakil pemimpin kaum Decepticons

Blackout

  • Pengisi Suara : -
  • Faksi : Decepticons
  • Bentuk Alternatif: Helikopter tempur, Sikorsky MH-53 Pave Low
  • Posisi : Letnan utama Megatron

Scorponok

  • Pengisi Suara : -
  • Faksi : Decepticons
  • Bentuk Alternatif: Robot kalajengking
  • Posisi : Pemburu dan penghancur

Barricade

  • Pengisi Suara : Jess Harnel
  • Faksi : Decepticons
  • Bentuk Alternatif: Mobil polisi, Ford Mustang Saleen S281
  • Posisi : Pemburu dan interogator

Frenzy

  • Pengisi Suara : Reno Wilson
  • Faksi : Decepticons
  • Bentuk Alternatif: Boombox stereo; Mobile phone (khusus kepalanya)
  • Posisi : Mata-mata dan pembunuh

Bonecrusher / Demolitions

  • Pengisi Suara : Jimmie Wood
  • Faksi : Decepticons
  • Bentuk Alternatif: Kendaraan penjinak ranjau, Buffalo Mine Protected
  • Posisi : Pejuang tempur

Devastator / Brawl

  • Pengisi Suara : -
  • Faksi : Decepticons
  • Bentuk Alternatif: Tank tempur, M1 Abrams bermeriam tiga
  • Posisi : Pejuang tempur
Sutradara Michael Bay
Penulis Roberto Orci
Alex Kurtzman
John Rogers
Pemeran Shia LaBeouf
Megan Fox
Josh Duhamel
Tyrese Gibson
Rachael Taylor
Anthony Anderson
Jon Voight
John Turturro
Bernie Mac
Kevin Dunn
Julie White
Musik oleh Steve Jablonsky
Tanggal rilis 28 Juni 2007
Durasi 143 menit
Negara Amerika Serikat
Bahasa Bahasa Inggris
Keuntungan kotor 147 juta dolar AS
Sekuel Transformers 2: Revenge of the Fallen

Dhika's Windtalkers


Judul Film : Windtalkers
Pemain : Nicolas Cage/Adam Beach/Christian Slater/Peter Stormare/Noah Emmerich/Mark Ruffalo/Brian Van Holt/Roger Willie/Frances O'Connor
Sutradara : JOHN WOO
Produksi : MGM PICTURES

Film ini mengambil setting tahun 1943, ketika Amerika terlibat dalam Perang Dunia II melawan tentara Jepang. Pada saat itu tentara marinir Amerika berusaha menguasai pulau Saipan untuk dijadikan pangkalan perang, tujuannya agar serangan ke kepulauan Jepang dapat dilakukan lebih mudah. Diceritakan untuk mengantisipasi komunikasi lewat transmisi radionya yang sering didengar dan dimengerti oleh tentara Jepang, marinir Amerika menggunakan bahasa milik bangsa Navajo (suku Indian) sebagai kode/sandi dalam berkomunikasi. Beberapa orang Navajo direkrut dan diikutsertakan dalam peperangan. Tugas mereka bukan sebagai tentara, tapi khusus menyampaikan pesan/perintah dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Navajo (encoding) kemudian dikomunikasikan via transmisi radio kepada rekan mereka untuk di-decoding lagi dalam bahasa Inggris.

Marinir Joe Enders (Nicolas Cage) ditugaskan untuk melindungi Ben Yahzee (Adam Beach) – seorang Suku Navajo yang ditugaskan sebagai encoder. Sementara rekan Yahzee sesama Suku Navajo yang bernama Whitehorse bertugas melakukan decoding pada base camp. Memang frekuensi radio milik marinir Amerika ditangkap juga oleh tentara Jepang, sehingga komunikasi kedua suku Navajo itu didengar. Namun tentara Jepang tidak dapat memahami bahasa yang digunakan.

Sutradara John Woo
Produser
John Woo
Terence Chang
Tracie Graham-Rice
Alison Rosenzweig
Penulis
John Rice
Joe Batteer
Pemain
Nicolas Cage
Christian Slater
Adam Beach
Roger Willie
Musik
James Horner
Film
Jeffrey Kimball
Editing
Jeff Gullo
Steven Kemper
Tom Rolf
Distributor
MGM
Tanggal Release
United States:
June 14, 2002
Durasi
134 min.
Negara
United States
Bahasa
English
Navajo
Japanese
Anggaran
$100,000,000
Pendapatan Kotor
$77,628,265 (Worldwide)